x

Apa yang bisa kami perbaiki dari website ini?

Berita

Home / Berita

Lokakarya Tahunan GESI dan CSE di Infrastruktur

Jakarta - Dalam rangka mendukung misi Gender Equality and Social Inclusion(GESI)  dan Civil Society Engagement (CSE) dengan mendukung partisipasi efektif perempuan, penyandang disabilitas, kelompok rentan lainnya dan semua anggota masyarakat dalam perencanaan dan pelaksanaan infrastruktur, KIAT (Kemitraan Indonesia Australia dalam Infrastruktur) mengadakan Lokakarya Tahunan tentang Strategi GESI dan CSE dalam infrastruktur. Kegiatan yang dihadiri oleh ke-empat CSO penerima dana hibah ini dilaksanakan pada hari Rabu tanggal 11 April 2018 bertempat di Hotel Shangri-La, Jakarta.

Steven Barraclough, DFAT, Kedutaan Besar Austrlia memberikan sambutan kegiatan ini dengan menyampaikan telah terdapat kesalahan persepsi bahwa projek infrastruktur hanya hal teknis saja. Bahwasannya konsep yang dipikirkan adalah misalnya perempuan atau lelaki dan penyandang disabilitas mendapatkan manfaat yang sama tentang jalan padahal hal tersebut tidak benar. Seringkali mereka tidak dilibatkan dalam perencanaan atau design terkait infrastruktur jalan. Oleh karena itu, GESI hadir untuk memastikan bahwa kelompok yang paling rentan dapat menerima manfaat yang setara dari pembangunan. Keterlibatan mereka sangat penting bahwa infrastruktur dapat dirasakan manfaatnya oleh semua orang. Beliau menyampikan bahwa salah satu contoh projek yang sudah terlihat hasilnya ada di Nusa Tenggara Barat (NTB). Disampaikan bahwa membangun jalan juga dengan maintenance dan satu bagian dari itu adalah diperlukan adanya feedback langsung dari masyarakat seperti yang telah berlangsung di NTB. Jadi, melalui KIAT akan melayani isu-isu seperi demikian dengan memberdayakan perempuan. Beliau menyampaikan bahwa saat ini tenaga kerja perempuan di Indonesia hanya 53% dibandingkan dengan lelaki 87%. Apabila jumlah tenaga perempuan dan lelaki sama, diperkirakan akan menambahkan 12 triliun dollar kontribusi untuk GEP pada tahun 2012. Hal tersebut, membuktikan bahwa inklusi social tidak hanya isu yang membicarakan tentang kesteraan saja, tetapi juga membicarakan keuntungan ekonomi.

Dr. Ir. Hetifah Sjaifudian, MPP selaku Wakil Ketua Komisi X DPR RI menyampaikan sambutan materi terkait dengan kegiatan Kesetaraan Gender dan Inklusi Sosial (GESI) dalam infrastruktur. Beliau menyampaikan perbedaaan public transportasi dan infrastruktur jalan yanga ada di Indonesia dengan Australia. Public transportasi dan infrastruktur jalan yang ada di Indonesia pada saat ini kurang adanya keramahan dan kenyaman pada kelompok rentan. Harus adanya komitmen dari Pemerintah dan ingin mempercepat karena komitmen terkait dengan perhatiannya kepada kelompok rentan ini belum betul-betul menunjukan kemajuan yang cepat.

Pembukaan kegiatan ini dilakukan oleh Ir. Baby Setiawati Dipokusumo, M.Si selaku Staf Ahli Menteri PUPR Bidang Sosial Budaya dan Peran Masyarakat. Dalam sambutannya beliau menyampaikan apresiasi kepada Pemerintah Australia karena telah memberikan perhatian yang khusus kepada Indoesia melalui GESI dan CSE, Kemitraan Indonesia Australia untuk Infrastruktur yang mendukung ekonomi berkelanjutan dan inklusif serta akses yang baik untuk infratruktur bagi seluruh rakyat Indonesia. Beliau juga menyampaikan apresiasinya kepada Perencanaan Pembangunan Nasional Indonesia yang telah menginisiasi kegiatan ini. Beliau menyampaikan kebijakan infrastruktur untuk Indonesia tahun 2015-2015 bahwasannya peran infrastrtuktur sangatlah penting dan pemenuhan hak rakyat dan selain itu infrastruktur memegang peran penting untuk pertumbuhan ekonomis dan peningkatan daya saing global. Perlu diketahui bahwa pada saat ini, Indonesia berada pada posisi ke 60 dari 133 negara, sedangkan untuk keikutsertaan atau partisipasi perempuan di dalam kerja Indonesia berada pada posisi 15 dari 138 negara dan masih agak tertinggal jauh. Kemeterian PUPR yang menangani infrastruktur yang merupaka bagian dari infrastruktur berkewajiban untuk mendukung hal tersebut melalui pelaksanaan pembangunan yang terpadu, efektif, dan efisien dengan memperhatikan pengarusutamaan pembangunan yang berkelanjutan, gender, dan berlandasan tata kelola pemerintah yang baik dalam proses pencapaian tujuan pembangunan nasional.

Tim Konsultan KIAT mengekplorasi lima tema untuk strategis GESI di infrastruktur meliputi: (1) GESI dan Best Practices perihal bagaimana GESI dan CSE mainstreaming dalam penyediaan sarana dan prasarana, praktek International dan di Indonesia, (2) GESI dan Penelitian, Pengetahuan, dan Pembelajaran terkait dengan bagaimana upaya-upaya intrnasional untuk GESI dalam infrastruktur, (3) GESI dan Inklusif Ekonomi untuk meningkatkan potensi perempuan dan kelompok-kelompok rentan lainnya dalam mengakses kesempatan kerja yang terkait dengan proyek-proyek infrastruktur, didukung oleh penyediaan dan pelaksanaan program-program pengembangan keterampilan yang relevan , (4) GESI dan Inklusif Leadership, dan (5) GESI dan Pelibatan CSO dimana Tim Konsultan akan mempresentasikan hasil temuan dan rekomendasi yang berkontribusi pada strategis GESI dan CSE di KIAT 2018 – 2020. Kegiatan Lokakarya nantinya akan memastikan bahwa semua pemangku kepentingan kunci dikonsultasikan dan memberikan masukan dalam proses pengembangan strategi ini. Setelah konsultan KIAT masing-masing memparakan materinya, didapat saran dan masukan dari Tim Panelis yang berasal Darmawan Prasodjo, Deputi I, Kantor Sekretariat Presiden; Ir. Erna Witoelar (menteri Pemukiman dan Pengembangan Wilayah 1999 – 2001); Tri Dewi Virgiyanti, ST, MEM (Direktur Perumahan dan Pemukiman, Bappenas); Ir. Rina Agustin Indriani, MURP (Ketua Gender Sekretariat Kementerian PUPR); serta Dr. Hans Antlov (Advisor Knowledge Sector Initiative).

Setiap tema akan diperdalam dalam kegiatan diskusi kelompok. Peserta akan mendapatkan kesempatan untuk menyampaikan masukan dalam semua tema, baik melalui metaplan yang telah disediakan maupun melalui metode penyampaian langsung pada diskusi kelompok masing-masingtema. Sesi ini diakhiri dengan survey singkat mengenai perferensi peserta terhadap insiatif-inisiatif yang dikembangkan.